Berita Terbaru yang terjadi di tengah-tengah kita

Jumat, 08 Juli 2016

Kakek Durga Kami, Siswa SMA Berusia 68 Tahun



Durga Kami menyisir jenggot putihnya, kemudian memakai seragam, dan dengan bantuan tongkat ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju ruang kelas untuk menimba ilmu. Ya, Durga Kami adalah seorang siswa meski usianya tak lagi muda. Tahun ini, Kami menginjak usia 68 tahun. Tampilannya sangat kontras dengan teman-temannya yang lain di sekolah tersebut.

Ayah enam anak dan kakek dari delapan cucu ini pergi-pulang ke sekolah setiap enam hari dalam waktu satu minggu. Ia menjadi salah satu siswa Kelas X di SMA Shree Kala Bhairab. Bersama 200 siswa lainnya, Kami membaur meski tetap saja tampak berbeda. Teman-temannya di sekolah memanggilnya dengan sebutan 'Baa' yang berarti ayah. Meski tergolong berusia lanjut, Kami tetap mengikuti segala macam kegiatan di sekolah.




Menurut salah satu temannya, Sagar Thapa (14), Kami agak lemah dalam pelajaran dibanding yang lain. Mungkin karena kemampuan otaknya sudah menurun seiring dengan usianya. Bahkan saat pertama kali bersekolah, suasananya agak aneh, karena mengapa ada orang tua yang ikut belajar bersama mereka? Tapi seiring waktu berlalu, menurut Sagar, teman-temannya telah menikmati kondisi ini.

"Ini merupakan pengalaman pertama mengajar seseorang yang usianya sama dengan ayah saya. Saya merasa senang dan bergairah," kata D.R. Koirala, salah satu guru di Shree Kala Bhairab.

Koirala merupakan salah satu guru yang memfasilitasi Kami agar bersekolah kembali. Melaluinya, Kami mendapatkan beasiswa berupa alat tulis, seragam, namun tidak termasuk ongkos dan uang makan.

Kemiskinan

Satu-satunya alasan Durga Kami baru bersekolah saat ini adalah kemiskinan. Orang tuanya tak mampu menyekolahkan Kami saat masuk usia sekolah. Kami yang bercita-cita menjadi guru tak bisa berbuat banyak. Setelah kematian sang istri, beserta anak dan cucu yang tak lagi bersamanya di rumahnya yang berada di atas bukit, ia baru merasakan kesepian dan memikirkan untuk bersekolah. Mulanya Kami belajar di SD Kaharay bersama anak-anak usia tujuh hingga delapan tahun. Kemudian barulah Koirala mengundang Kami untuk bersekolah di SMA Shree Kala Bhairab.




Kami merupakan citra kemiskinan di negara atap dunia ini. Rumahnya yang terletak di Kabupaten Syangja, sekitar 250 meter di sebelah barat Kathmandu, memiliki atap yang bocor dan pasokan listrik yang cukup minim. Makanannya adalah nasi dan Gundruk, semacam fermentasi sayuran hijau. Karena bersekolah, ia tak sempat bekerja, sehingga nasi dan Gundruk itu harus bisa membuatnya bertahan sampai tiba waktu makan malam.

Apa yang bisa didapat dari Durga Kami adalah motivasinya. Kami pernah berujar bahwa ia ingin belajar hingga maut menjemput. Banyak orang yang melihat Kami, apalagi teman-temannya yang masih muda, merasa termotivasi dengan kegigihan kakek ini dalam mencari ilmu.
Facebook Twitter Google+